Kendati dipastikan wabah flu babi belum ditemukan di Indonesia, saat ini berbagai upaya pencegahan terus dilakukan. Di rumah pemotongan babi di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, misalnya. Seluruh kandang, kendaraan dan wilayah di sekitar tempat pemeliharaan babi disemprot cairan disinfektan untuk membasmi kuman, bakteri, virus dan parasit pada babi.
Pihak Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat dan Dinas Peternakan DKI Jakarta yakin penyemprotan yang baru pertama kali dilakukan di kandang babi ini mampu mencegah penyebaran flu babi di Indonesia. Itu pula yang terlihat di rumah pemotongan hewan milik Dinas Pertanian Kota Bandung, Jawa Barat. Sejak flu babi merebak di sejumlah negara, pengawasan terhadap perdagangan dan peternakan babi semakin intensif.
Terkait merebaknya wabah flu babi di sejumlah negara, pemerintah berharap masyarakat tak perlu cemas. Apalagi, flu babi yang disebabkan virus H1N1 dinyatakan tidaklah berbahaya seperti flu burung. Jenis virus influenza ini, menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, tidak dapat berkembang di iklim tropis seperti Indonesia [baca: Menteri Kesehatan Minta Masyarakat Tenang].
Profesor Herdiman T. Pohan, pakar penyakit dalam dan tropis dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pun sependapat. Namun tetap saja, virus H1N1 ini harus diwaspadai karena dapat menyebabkan kematian. Ada beberapa cara mencegah flu babi. Di antaranya memakai masker, menghindari berjabat tangan atau mencium pengidapnya. Serta, mencuci tangan dengan sabun di bawah air yang mengalir.
Mencegah flu babi masuk ke Tanah Air, Departemen Kesehatan telah memerintahkan seluruh bandar udara dan pelabuhan mengaktifkan pedeteksi panas tubuh atau thermoscan. Sayangnya, penerapan alat ini belum optimal [baca: Penggunaan Pendeteksi Panas Tubuh Belum Maksimal].
Padahal, cara kerja alat tersebut mudah saja. Setiap orang yang melewati thermoscan akan terdeteksi suhu tubuhnya. Siapa pun yang memiliki suhu tubuh di atas 38,5 derajat Celsius, sesuai gejala awal flu babi, akan terdeteksi dan diharuskan menjalani pemeriksaan lanjutan.
Di bandara lain di Tanah Air, yang jadi masalah adalah jumlah pendeteksi panas tubuh belum memadai. Bandara Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah, misalnya, hanya mempunyai satu alat. Thermoscan ini pun masih kalah canggih dibanding yang terpasang di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Batam sebagai kota transit dari Singapura, juga sudah mulai menguji coba thermoscan. Tapi, belum semua gerbang masuk-keluar Batam tersebut menggunakan alat penangkal flu babi ini. Pihak Bandara Hang Nadim, misalnya, menyatakan belum memerlukan thermoscan karena tidak melayani lalu lintas orang secara internasional.
Meski Menteri Kesehatan menyatakan Indonesia tak perlu terlalu cemas akan flu babi, pemerintah perlu lebih tegas menerapkan kebijakan pencegahan flu babi. Ini mengingat flu babi sudah menular dari manusia ke manusia, semudah penularan flu biasa melalui virus yang beterbangan di udara saat seseorang bersin atau batuk [baca: WHO Minta Vaksin Flu Terus Diproduksi].
Bahkan, saat seseorang berjabat tangan dengan orang yang terinfeksi, juga saat memegang benda yang terpapar virus flu babi. Bila kemudian dari aktivitas itu tidak segera mencuci tangan dan memegang hidung, mata atau mulut, maka virus flu babi bisa masuk melalui cairan tubuh orang tersebut.

0 comments:
Post a Comment